Di salah satu bebatuan di dalam jurang, Lynx memperhatikan dinding di depannya. Matanya menyipit menatap reruntuhan batu yang menutupi lorong. Udara lembap dan bau tanah basah memenuhi paru-parunya.

"Sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan di tempat ini sehingga pria tadi ingin menggalinya," batin Lynx.

Lynx mengeluarkan kemampuan melihat tembus pandangnya dan menemukan jejak ruangan sebelum runtuh. "Siapa mereka? Sepertinya mereka dibunuh sebelum ruangan tersebut runtuh," batin Lynx saat melihat dua jasad yang masih terlihat baru. Lynx memperhatikan lebih jauh dan melihat sebuah lorong serta ruangan yang masih terlihat utuh. "Mungkin sebelumnya ini jalan menuju ruangan rahasia. Aku akan mencoba memasukinya."

Lynx segera mengerahkan energi saktinya untuk menggerakkan tanah di depannya sehingga terbentuk sebuah lorong yang bisa dia masuki. Batu-batu berat berderak pecah saat Lynx memadatkannya agar menjadi lebih luas untuk dilewati. Untuk menutupi jejak, Lynx menutup lagi jalur yang sudah dilewatinya. Setelah berusaha selama beberapa menit, terlihat dua mayat yang tertimbun puing. Lynx memperhatikan kedua mayat tersebut. Dari luka yang ditimbulkan, diduga berasal dari pisau yang menancap di salah satu mayat.

"Aneh, pakaian mereka sama dengan pria yang menyerangku saat dia keluar dari jurang ini. Apakah mereka berada di tim yang sama?" batin Lynx dengan penasaran.

Lynx memperhatikan lebih detail keadaan di sekitarnya. Terlihat bekas jejak energi dari sebuah formasi. Lynx kemudian melangkah menuju lorong yang masih aman dan tidak ikut mengalami longsor.

"Ternyata ruangan ini terdapat formasi sehingga jebakan yang ada tidak memengaruhi tempat ini. Membuatku penasaran, ada apa di ujung jalan ini?"

Lynx menggunakan penglihatan tembus pandangnya lagi untuk memperhatikan sekitar. "Ternyata jalan ini berbentuk labirin dengan banyak percabangan jalan yang menyesatkan. Banyak formasi dan monster penjaga di sepanjang jalan ini."

"Tunggu, itu..." Tubuh Lynx agak bergetar setelah melihat tiga manusia sedang berusaha menghindari serangan monster yang kuat. Lynx memfokuskan penglihatannya dan melihat ternyata mereka bertiga adalah Arkha, Kael, dan Karim.

Sementara itu, Kael, Arkha, dan Karim yang terluka tidak menduga jika mereka akan menghadapi banyak serangan monster kuat. Ditambah lagi, cahaya yang ada di dalam lorong tersebut terlihat redup. Kekuatan mereka belum cukup untuk dapat melihat dengan jelas di dalam kegelapan. Mereka mengerahkan persepsi spiritualnya untuk merasakan keadaan di sekitar, namun lorong yang banyak bercabang dan pengaruh formasi menyebabkan mereka kesulitan menentukan arah.

"Arkha! Ke belakang!" suara Kael menggema, dipotong raungan monster. "Kalian bersiaplah pergi, aku akan menahannya agar kalian bisa melewatinya."

"Tidak, Kael, kita akan hadapi bersama," jawab Karim dan Arkha bersamaan. Mereka bersiap-siap menghadapi makhluk besar yang muncul dari formasi jebakan. Pada mulanya mereka mencoba berlari menghindari, namun terjebak di jalan buntu.

Saat makhluk itu datang, langsung menyerang Kael, namun Kael yang sudah bersiaga bersama Arkha dan Karim langsung menghindar dan menyerang. Karena kekuatan mereka kalah jauh, dalam waktu singkat, Karim dan Arkha terluka parah.

"Karim, bertahanlah!" teriak Arkha dengan penuh khawatir sambil memaksa tubuhnya tetap berdiri. Namun, luka yang dideritanya membuat tubuhnya tidak bisa bergerak.

"Ugh..." Kael terlempar dan terbanting ke dinding akibat serangan makhluk itu dan muntah darah.

Makhluk itu kemudian mendekati mereka dengan niat membunuh. Kael merasa sudah tidak mampu bertahan. Dia memandang Arkha dan Karim.

"Maafkan aku, tidak bisa memenuhi janjiku," keluh Kael. Dia merasa frustrasi karena keinginan untuk menemukan penduduk Surya dan Lynx belum tercapai.

Tiba-tiba saja, saat makhluk itu hampir membunuh Kael, makhluk itu meledak. Tubuhnya hancur ke berbagai tempat.

Kael, Arkha, dan Karim kaget karena tidak menduga hal yang terjadi di depan mereka. Mereka terpaku diam, belum menyadari.

"Hai, Arkha, Kael, Karim, lama tidak berjumpa. Apa kalian masih mengingatku?"

Tiba-tiba sebuah suara menyapa mereka. Suara yang mereka kenali dan telah mereka cari-cari selama beberapa tahun ini.

"L... Lynx?" Kael tersedak, darah mengucur dari luka di bahunya. Karim yang tersungkur di sudut mengangkat kepala, matanya berkunang-kunang.

Arkha bergerak ke arah Lynx dengan tatapan tidak percaya. "Kepala suku, benarkah ini kamu?" katanya dengan nada khawatir, takut ini hanya imajinasinya.

"Tentu saja ini aku," kata Lynx sambil memeluk Arkha karena rasa bahagianya, lalu menyalurkan energi saktinya untuk menyembuhkan tubuh Arkha.

Lynx segera mendatangi Kael dan Karim. Dia melakukan hal yang sama, memeluk mereka sambil menyalurkan kekuatan untuk menyembuhkan mereka.

Dalam sekejap, rasa sakit dan luka di tubuh mereka menjadi pulih dan sehat kembali.

"Kepala suku, ke mana saja selama ini? Kami mencarimu ke mana-mana," kata Karim dengan tatapan bahagia.

"Betul, Lynx, bagaimana tiba-tiba kamu muncul di sini?" kata Kael turut gembira.

"Tunggu sebentar, sebaiknya kita pergi dari sini terlebih dahulu dan mencari tempat yang enak untuk mengobrol," kata Lynx.

Lynx mengerahkan kembali kemampuan tembus pandangnya dan melihat ke sekitar. Melihat lorong masih panjang untuk dilalui, Lynx mengajak mereka kembali ke arah masuk.

"Ikuti aku." Lynx segera berlari dan diikuti oleh mereka bertiga. Lynx menyesuaikan kecepatannya agar yang lain bisa mengikuti.

Di perjalanan, formasi yang dilewati kembali aktif dan memunculkan mahluk yang lebih besar daripada yang sebelumnya, namun dengan sinar tak kasat mata, Lynx menghancurkan formasi dan mahluk tersebut dalam sekejap tanpa menghentikan larinya.

"Kepala suku, lama tidak bertemu, rasanya anda semakin kuat saja." Kata Arkha dengan nada tulus memuji kemampuan Lynx yang dapat membunuh musuh dengan mudah.

"Apa yang sudah Lynx lakukan? Kenapa aku tidak melihat atau merasakan sedikitpun energi Qi dari serangannya?" Batin Kael penasaran.

Tanpa menjawab, Lynx tetap berlari memimpin perjalanan mereka menuju keluar.

Tidak lama, Kael segera mengingatkan Lynx, "Jalan di depan buntu. Kami dari sana dan terjadi longsor. Kita tidak bisa melaluinya."

"Tenang saja, menurut kalian, aku masuk dari mana?" kata Lynx tertawa sambil berlari.

Setibanya di tempat yang dianggap telah longsor, Arkha, Kael, dan Karim kaget karena jalur tersebut sudah bisa dilalui kembali. Mereka semakin mengagumi kekuatan Lynx.

"Apakah mereka teman kalian? Pakaian kalian sama," tanya Lynx.

"Betul, mereka teman kami. Karena pengkhianatan seseorang, mereka terbunuh," jawab Arkha.

"Aku melihat seseorang dengan pakaian yang sama dengan kalian keluar dari tempat ini. Apakah dia yang kalian maksud?" tanya Lynx lagi.

"Kamu melihatnya? Aku akan mencarinya dan membuat perhitungan atas pengkhianatannya," kata Kael dengan geram.

"Kepala suku, bagaimana sekarang? Jalanan buntu di depan," tanya Karim.

Lynx tidak menjawab, namun dia segera melakukan gerakan untuk membuka kembali tanah yang tertutup. Setelah terbuka, Lynx memberi kode untuk mereka segera keluar.

"Apakah kalian bisa memanjatnya?" tanya Lynx setibanya mereka di luar lorong. Lynx ingin memastikan kemampuan mereka karena jarak menuju atas jurang sangat tinggi.

"Bagaimana sekarang? Kita turun menggunakan tali, tapi kini tali tersebut sudah hilang. Dia pasti sudah memutusnya agar kita tidak bisa naik," kata Karim dengan kesal.

Lynx yang memahami kondisi, tanpa banyak bicara langsung menggendong Arkha dan Karim dengan gerakan cepat dan membawa mereka ke sebuah tempat yang agak jauh dari jurang, lalu kembali dan mengangkat Kael untuk dibawa ke tempat yang sama. Semua terjadi dalam hitungan detik sehingga mereka tidak menyadari bahwa Lynx membawa mereka jauh dari jurang karena Lynx dapat merasakan pria yang sebelumnya masih mengintai dari pepohonan.

"Bagaimana kita bisa ada di sini?" tanya Arkha dengan kebingungan.

"Pasti kepala suku yang membawa kita ke sini," jawab Karim dengan nada pelan, masih merasakan kebingungan juga.

"Belum waktunya kita mengobrol, ikuti aku." Lynx segera berlari, diikuti oleh yang lainnya.

Setelah berada di tempat aman, Lynx melemparkan kantong kain dari cincin penyimpanannya ke Kael. "Makanlah ini. Kalian pasti lapar."

Kael segera membagi makanan dengan Arkha dan Karim, lalu tanpa ragu memakannya.

Lynx memperhatikan mereka yang sedang makan lalu dia membuat api unggun dan mencari tempat untuk duduk yang nyaman.

